Masih tentang atap rumah yang belum sepenuhnya terpasang rapi. Perombakan total yang diharapkan bisa membuat tidur lebih nyenyak, makan lebih nikmat, dan nonton TV lebih betah.

Yang jadi persoalan saat ini adalah, bukan hanya atap yang di obrak-abrik. Beberapa sisi rumah juga perlu ditambah beberapa meter tembok. Sehingga perlu memesan cukup banyak bongkahan batako.

Batako. Kenapa harus batako? Menurut Pakdhe Muji kepala tukang yang menangani rumah saya, lebih pilih batako karena lebih cepat dalam proses pemasangannya. Dibanding dengan batu bata yang ukurannya kecil-kecil. Tentu memakan waktu lama.

Yaa tapi eh tapi, bagi saya tetap saja batako masih terasa sebagai solusi yang kurang praktis. Masih butuh banyak biaya dan tenaga.

Bila ingin solusi yang paling praktis, cobalah tonton film spongebob. Sungguh saya menemukan banyak inspirasi dari film spongebob ini. Film yang selalu diulang-ulang penayangannya karena isi cerita yang sangat bermanfaat bagi sesama.

Warga Bikini Bottom yang sangat patut dicontoh. Memanfaatkan kaleng-kaleng bekas menjadi rumah. Spongebob sendiri hanya membuat rumah dari nanas. Patrick bisa membuat rumah dari sebongkah batu. Bahkan Tuan Krab yang juragan itu, hanya membuat rumah dari jangkar kapal bekas. Sangat efisien, efektif, praktis, dan solutif.

Memang film Spongebob adalah sebaik-baiknya inspirasi.

Ditulis dan dipublikasikan oleh Anang Jefry Nurfalaq melalui @anangjefnf untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *