Pirang

Tulisan ini saya buat berdasarkan fenomena yang selalu berulang. Dapat dikatakan musiman, seperti misalnya musim durian, musim rambutan, dan musim kawinan. Yang berujung pada tersedotnya pendapatan karena sumbangan. Lalu, kenapa saya berikan judul bule kambuhan? Karena agenda rutin ini juga muncul ketika musim liburan sekolah tiba dan tentu semua bersukacita, kecuali saya. Haa gimana mau bersukacita? lha wong saya sudah tidak sekolah lagi. Otomatis romantis saya juga ndak dapet jatah liburan.

Kembali ke cerita bule kambuhan. Apabila teman-teman senang mengamati dan tergolong orang yang selo, pasti dengan mudah akan mengetahui apa itu bule kambuhan. Sebetulnya bule kambuhan adalah para siswa yang mengecat rambutnya dengan warna-warna seperti bule asli. Ada yang abu-abu, coklat, merah bahkan ungu. Ketika nanti akan memasuki tahun ajaran baru, mereka akan kembali mewarnai rambutnya dengan warna hitam.

Bule kambuhan ini sebenernya juga bule juga kok. Tingkahnya ya mirip mister dari luar negeri. Rambut pirang, kostum piknik, naik sepeda motor ke sana kemari. Tak lupa pula ambil foto demi konten media sosial. Urusan makanan pun mereka juga gak kalah kok. Persis plek jiplek! Beda dengan saya yang makan slow food. Makanan yang saya makan memang butuh proses lama untuk layak disantap. Dimulai dari belanja ke pasar, racik-racik hingga entah berapa kali lagi proses yang dilalui.

Bila kita mau mikir sedikit, sebenarnya bule kambuhan ini juga memiliki nilai yang patut dibanggakan juga lho. Soalnya untuk menjadi bule kambuhan ini butuh perjuangan kayak artis KPop yang harus operasi plastik. Lha gimana ndak malu. Saya pernah menjumpai beberapa bule kambuhan(laki-laki) masuk ke toko kosmetik yang isinya kaum hawa semua. Bisa bayangin, ‘kan? Mereka harus menahan urat malu mereka. Mereka harus membeli cat rambut. Dari kejauhan wajah mereka sudah memerah kayak kepiting rebus. Keringatnya mulai mengucur. Belum lagi tatapan nyinyir para perempuan yang ada di sekitar mereka. Untunglah mereka berhasil melewati ujian ini. Tak ada remidi, selamat!

Selanjutnya, bule kambuhan ini memiliki solidaritas tinggi. Sebelum ke toko kosmetik mereka sudah membuat kesepakatan untuk patungan membeli cat rambut. Mereka juga dengan ikhlas menyisihkan uang untuk membeli cat rambut. Patut diapresiasi bukan? Solidaritas yang lain ditunjukkan ketika mereka bahu membahu mengecat rambut teman-temannya secara bergantian. Persis ketika mengecat gapura menyambut 17an. Kompak! Selain itu, kekuatan komunal sangat luar biasa. Mereka tak peduli lagi dengan latar belakang agama dan sebagainya. Yang penting adalah sim salabim rambut mereka berubah.

Poin terakhir adalah mengecat rambut sebenarnya adalah bentuk dari pengaplikasian ilmu di sekolah yakni seni budaya dan pas TK dulu, yakni mewarnai. Tak bisa juga mereka disalahkan, karena mereka mendapatkannya di sekolah. Mereka dengan bebas bisa mewarnai tanpa harus dinilai dari 0-100. Dari sisi lainnya mengecat rambut adalah bentuk ekspresi dari sekolah yang mungkin selama ini membosankan. Ya gimana gak bosan dari level dasar sampai perguruan tinggi yang dibahas hanya angka bukan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk kita kehidupan. Belum lagi kalau pelajaran menggambar harus ada ritual wajib dua gunung dikelilingi sawah. Terus burung terbang bentuk huruf M ditambah dengan matahari yang selalu muncul dari tengah gunung. Secara sederhana sih ini pesta kecil mereka sebelum bertemu kurikulum yang kadang kala bikin kepala cekut-cekut. Daripada kayak saya kebanyakan pelajaran jadinya kepala ubanan lebih dini. Semmm tenan!!!

Ditulis dan dipublikasikan oleh Diaz Radityo di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Thiago Alves (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *