Diaz Radityo 3

Pintu kaca itu saya geser pelan-pelan. Nyaris tak berdecit. Kemudian saya melangkahkan kaki menuju ke dalam. Di hadapan saya sekitar dua puluh orang berbaring. Lengkap dengan para penunggunya. Semuanya tampak bersepakat, menunggu waktu.

Ruangan seukuran separuh lapangan futsal itu mengantarkan saya kepada pengalaman baru. Nyali saya mulai menciut. Jantung saya mulai menggedor-gedor rongga dada. Syaraf penciuman saya langsung mengantarkan respons ke otak saya, secepat babang ojek online menyambar orderannya. Tubuh saya rasanya tersetrum. Inilah yang harus saya hadapi di beberapa waktu lalu, ruang hemodialisis.

Kebetulan waktu itu saya sedang menengok famili saya yang harus melakukan cuci darah. Gimana saya tidak merinding dan bergidik. Selang yang memompa darah tampak di mana-mana. Belum lagi jika ada sensor dari alat hemodialisis yang berbunyi lantang, menandakan ada masalah di mesin tersebut. Tak mungkin pula saya menutup mata. Mengumpulkan keberanian tidak seperti saat kita memunguti mangga yang berjatuhan di halaman rumah. Lebih dari itu!

Mengalihkan ketakutan yang saya alami, saya pun berusaha mengobrol dengan famili saya. Sesekali saya curi-curi pandang melihat proses cuci darah tersebut. Saya terbelalak. Para pasien tersebut malah makan dengan lahap. Ada pula yang menemani ayahnya tiduran di ranjang sembari bermain gawainya. Seorang laki-laki malah menjadi komentator tentang sebuah acara televisi. Bahkan, ada pula yang membahas tarif LC karaoke di Jogja ternyata lebih murah dibandingkan daerah lainnya. Well sekali, ‘kan? Tapi banyak juga yang memilih tidur. Karena proses cuci darah bisa memakan waktu yang lama.

Hati saya mulai sedikit mengembang, seperti bunga Wijayakusuma di malam hari melihat aktivitas mereka. Tak ada gurat ketakutan di wajah mereka. Sebuah keluarga lebih tepatnya. Mengapa saya menyebut demikian? Mereka saling membantu sama lain. Mulai dari membetulkan ranjang hingga mengambilkan gawai. Tak ada ragu. Hanya ada rasa percaya di antara mereka.

Kekaguman saya kepada mereka tidak hanya berhenti di situ saja. Mereka adalah orang-orang yang pasrah sekaligus pemberani dalam menghadapi takdir dari Tuhan. Di ruangan itu jugalah mereka tetap berbagi. Setiap salah satu dari mereka menunaikan cuci darah, yang lain lantas memberikan semangat.

“Semangat yo, besok kita ketemu lagi. Dijaga kesehatannya,” ujarnya.

Sungguh mereka adalah pejuang kehidupan dan juga harapan. Di ruangan itu saya kembali belajar bahwa harapan itu bisa diciptakan. Tentunya harapan akan menjadi kenyataan jika diperjuangkan. Dan terima kasih panjenengan (Anda) semua telah mengajari saya.(*)

Ditulis dan dipublikasikan oleh Diaz Radityo di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Matthias Weinberger (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *