Saya seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja. Dengan segala kesibukan dan mobilitas yang cukup tinggi, tentu saja saat melaksanakan salat Jumat, saya menjadi seorang ‘petualang’. Kadang salat Jumat di Masjid Kampus, kadang di Masjid dekat kost-kostan, ataupun Masjid di pinggir jalan ketika sedang dalam perjalanan.

Jumat adalah hari besar bagi umat Islam, sebagaimana disebutkan dalam Quran dan Hadits. Terlebih bagi laki-laki, di mana mereka diperintahkan untuk menunaikan salat Jumat di Masjid. Dengan segala keutamaannya, tentu saja Masjid di Jumat siang jauh lebih ramai dibanding waktu-waktu yang lain.

Sudah menjadi rahasia umum jika di Khutbah Jumat, sebagian jamaah terlihat mengantuk bahkan tertidur. Tentu saja hal tersebut manusiawi, mengingat salat dilaksanakan di tengah-tengah kesibukan atau pekerjaan masing-masing.

Saya sendiri selalu antusias mendengarkan khutbah Jumat. Dalam beberapa kesempatan jika dirasa mengantuk, tentu kopi menjadi hal yang wajib diminum sebelum berangkat ke Masjid agar bisa mendengarkan khutbah dengan khusyu, meskipun tidak jarang juga beberapa kali kecolongan karena godaan ngantuk yang datang teramat dahsyat.

Sebagai muslim yang awam dan jarang menghadiri pengajian ataupun kajian, tentu saja, khutbah Jumat menjadi salah satu ‘sandaran’ bagi saya untuk terus meningkatkan ketakwaan. Apa yang khatib sampaikan selalu saya coba pahami dengan baik.

Sampai di sini saya akan menjelaskan sedikit pengalaman saya. Mulai dari yang paling umum dan cukup sering terjadi, yaitu menyalahkan kaum Nasrani dan Yahudi atas kemunduran yang dialami umat Islam. Ini salah satu pengalaman saya pada tahun kemarin.

Saya melaksanakan salat Jumat di salah satu masjid di pusat kota Jogja, seperti biasa khatib melaksanakan rukun-rukun khutbah. Begitu masuk ke isi khutbah, yang dijabarkan Khatib adalah sebuah fenomena yang disebut dengan kristenisasi yang mengajak orang-orang muslim berpaling ke agama lain. Sehingga, persentase pemeluk Islam di Indonesia kian merosot bahkan hampir menyentuh angka 80%, katanya.

Umat Kristen disebut-sebut menjadi alasan banyaknya orang Islam yang pindah agama. Umat Kristen melakukan ‘kristenisasi’ melalui perkawinan-perkawinan dengan orang Islam dan melahirkan keturunan-keturunan pemeluk agama Kristen. Saya sendiri tidak tahu ada berapa banyak orang Islam yang berpindah agama. Namun setahu saya persentase pemeluk agama Islam masih sangat tinggi.

Saat itu, tentu saya cemas. Bukan karena fenomenanya, tapi lebih ke cara menyikapi fenomena tersebut. Kalaupun benar banyak orang Islam yang berpindah agama, mengapa pihak lain yang dipersalahkan? Mengapa selalu Yahudi dan Nasrani yang dijadikan kambing hitam atas kekurangan yang dilakukan Umat Islam itu sendiri?

Kalaupun yang disebutkan benar, seharusnya yang disalahkan adalah cara berdakwah di lingkup umat Islam itu sendiri. Ada yang salah dengan sebagian cara dakwah yang dipraktikkan sehingga muncul kebingungan di masyarakat. Belum lagi khatib menyangkut pautkan hal tersebut dengan PKI, yang jujur saja tidak begitu saya dengarkan. Bahkan, di beberapa kesempatan, tidak jarang khatib menyalahkan Yahudi atas kealfaan umat Islam.

Masjid sepi gara-gara yahudi. Banyak orang yang sibuk dengan gawai atau hal-hal keduaniawian gara-gara yahudi. Mengapa tidak jujur saja, kalau hal-hal tersebut lebih dilatarbelakangi oleh lemahnya keimanan orang-orang Muslim. Bukankah lebih elok jika kita lebih fokus kepada diri sendiri alih-alih menyalahkan orang lain?

Tempat saya ‘bersandar’ yang suci jadi diisi oleh berbagai macam kepentingan dan bibit-bibit kebencian. Meskipun memang, tidak setiap khutbah Jumat yang saya hadiri berisi materi yang demikian. Masih banyak Masjid atau khatib yang membawakan materi-materi khutbah yang menyejukkan. Berisi tentang keramahan Islam dan kiat-kiat meningkatkan ketakwaan. Khutbah semacam itu yang saya butuhkan, agar dari Jumat ke Jumat lainnya saya terus menjadi pribadi yang lebih baik.

Keresahan lainnya hadir dalam beberapa tahun terakhir, terlebih setelah ‘pecahnya’ masyarakat selepas Pilpres 2014, yang dampaknya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Hal-hal berbau politik tadi hinggap di lingkaran sosial media dan lingkungan saya. Seandainya hanya sampai di situ, tentu masih bisa saya maklumi. Keresahan saya bertambah ketika hal-hal politis tadi masuk ke ranah yang lebih intim, seperti halnya Masjid.

Beberapa kali saya mendengar langsung khatib membawa politik praktis ke ranah dakwah. Menjelek-jelekan pihak lain, menghasut sampai mengumbar kebencian bahkan terhadap saudara seimannya sendiri.

Apakah Majelis Jumat sudah berkurang kesuciannya sampai-sampai harus dikotori dengan hal-hal yang demikian? Saya sebagai umat Islam yang awam menjadi bingung jika ustadz atau ulama yang seharusnya mengajak, malah membuat saya kebingungan. Salah-salah saya bisa gagal memahami atau menyikapi maksud pesan yang sebenarnya.

Gus Mus dalam bukunya menulis kalau kesalah-kaprahan dalam keberagamaan berawal dari ke kurang-pahaman terhadap agama yang dipeluk dan sering kali tidak berimbang dengan semangat keberagamaan yang berkobar-kobar, ditambah dengan lemahnya semangat belajar tentang agamanya itu akibat rasa aman dan mapan.

Fenomena kesalah-kaprahan itu saya rasakan sendiri. Mungkin menyalah-nyalahkan orang lain adalah dampak dari rasa aman dan mapan yang hadir di pribadi muslim. Ketika terjadi sesuatu yang salah, lebih aman untuk menyalahkan pihak lain daripada mengusik kemapanan sendiri.

Saya bahkan bertanya-tanya dalam hati, apakah Rasulullah SAW dulu berdakwah dengan cara yang demikian? Menyalahkan pihak lain atas kejahiliyahan yang terjadi pada masyarakatnya pada saat itu? Alih-alih mengajak mereka memperbaiki diri? Tentu saja tidak. Lantas mereka yang berdakwah penuh dengan prasangka dan kebencian itu meneladani siapa?

Saya jadi ingat sebuah tausyiah yang disampaikan Habib Jindan mengenai Maulid Nabi yang masih ada kaitannya dengan tulisan di atas, “Dulu apa yang datang dari ulama, bisa kita terima semuanya. Namun sekarang kebanyakan, bikin pecah belah. Harapan kita kepada para ulama, kita dateng ke maulid enggak mau denger yang urusan politik. Kalau kita mau denger politik, kita dateng ke kantor DPR. Kita dateng maulid kita mau dengar tentang Rasulullah SAW.”

“Karena itu kita sampaikan harapan kita kepada para Ulama, pada Dai, para Mubaligh. Perdengarkan kepada kita tentang Rasulullah, itu yang kita mau. Kita datang ke maulid enggak mau dengar penyakitnya orang. Kita mau dengar penyakitnya kita. Perdengarkan kepada kita dosa-dosa kita, jadi kita tahu, kita taubat, dan berdamai dengan Allah. Kalau yang cuman kita dengarkan, Fulan korupsi, Fulan bercerai, Fulan ribut, Fulan sesat, Fulan ngaco. Ane mane? Yang kita tahu cuman Fulan.”

“Ane gabakal dituntut sama Allah dosanya Fulan. Ane gabakal dituntut kesesatannya Fulan. Ane bakal dituntut sama Allah kalo ane lupain diri ane sendiri. Karena itu kita harapkan dari para ulama kita. Perdengarkan kepada kita dosa-dosa kita. Kita mau tobat. Dosa-dosa orang lain kita tidak dituntut atas dosanya orang lain.”

“Kita tidak kenal nabi Muhammad, tolong perdengarkan. Kenalkan kita pada Rasulullah. Kenalkan kita tentang kasih sayang Allah, tentang peringatan Allah, tentang keperkasaan Allah. Jadi kita bisa nangis, takut dan rindu. Itu yang kita mau. Kita udah capek, muak sama urusan dunia. Kita pergi dari televisi yang isinya kotoran, pergi ke majelis yang kita dapetin kotoran dibawa-bawa ke majelis kita.” Tutup Habib Jindan.

Jika hal-hal di atas terjadi, rasanya tidur saat Khutbah Jumat adalah pilihan yang masuk akal sekalipun tidak begitu mengantuk. Karena saya tidak ingin pikiran saya dibuat pusing oleh hal-hal yang keruh, membuat hati tidak tenang dan tidak banyak pengaruhnya dalam meningkatnya ketaqwaan saya pribadi. Sebetulnya bisa saja saya walk out dari masjid dan pergi ke masjid yang lain. Tapi kembali ke perkara jarak dan waktu, belum lagi keberanian meninggalkan masjid yang sudah saya duduki.

Apa mencegah kemudharatan lebih utama daripada mengambil manfaat, berlaku dalam konteks ini?

Ditulis dan dipublikasikan oleh Ivan Pamuji di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Arian Zwegers (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *