Berhubung besok aku UAS Psikologi Komunikasi dan dapet tugas dari kelas menulis Mojok Institute, aku mau sedikit berbagi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar. Dalam berkomunikasi, bahasa punya peran penting buat kita. Bayangkan kalau nggak ada bahasa di antara kita, bisa-bisa uu aa uu aa doang tiap hari.

Bahasa memiliki peran sebagai simbol pada diri manusia di tempat mereka tinggal. Identitas seseorang bisa dilihat dari bagaimana cara ia berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Identitas itu bisa berupa cara pandangnya, nilai diri, sikap, serta keyakinan.

Beda budaya, beda pula cara berkomunikasinya. Yang aku pelajari sekarang ada dua kategori komunikasi yang dapat dilihat dari budayanya.

Pertama, High Context Culture. Orang yang budayanya seperti ini biasanya lebih ekspresif dan menganggap orang lain tuh udah ngerti maksudnya tanpa perlu jelasin lebih lanjut dengan kata-kata lagi. Contohnya, bisa bayangin drama Korea yang pemerannya ekspresif banget. Kalau sedih, ya berekspresi sedih. Orang lain juga udah langsung paham kalau dia lagi sedih.

Kedua, Low Context Culture. Kalau budaya ini biasa ditemui sama orang-orang di negara barat. Mereka nggak menganggap orang lain mengerti nilai dan sikap mereka. Jadi mereka seringnya ngejelasin lagi lewat kata-kata. Contohnya kalau pas kecewa, ekspresinya datar aja tapi ngomong kalau dirinya kecewa berat. Wadouw sangad frontal yha.

Nah, kamu termasuk orang yang ekspresif banget atau datar-datar aja, tapi kata-katanya nyungsep nih kalau ngomong?

Oleh Ika Rahmanita, ditulis untuk project 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *