Janneta Filza Auladwasasyah

Menjadi seorang anak kedokteran yang penuh dengan stigma terkadang cukup menjengkelkan di hati saya. Tiap ketemu orang lain akan selalu ada perkataan “Wah keren anak FK, pasti sibuk ya”, “wei pernah maen kagak sih”, atau “ih gimana kamu belajarnya, gimana ngatur waktunya”.

((Sibuk. Sering ujian. Nerd. Ansos. Introvert. Kalangan Atas. Pinter.))

Ya, kira-kira begitu, ya stigma anak kedokteran. Tapi sebagai anak kedokteran, saya rasa semua itu nggak sepenuhnya benar. Hidup kami sebenarnya tidak jauh beda dengan mahasiswa biasa kok. Kami sering makan ke burjo, main PUBG, hangout, ngejar deadline tugas, sampe goleran di atas kasur tiap mau baca materi yang pasti berakhir ketiduran.

Janneta Filza Auladwasasyah
@jenjanneta

Ujian kami bentuknya berbeda dengan prodi lain, ya ini sebenarnya lebih karena sistem yang berbeda juga, jadi ya nggak heran. Kalau bisa dirata-rata, mungkin kami bisa ujian hampir sebulan sekali tapi ini dilakukan sehari, bukan seperti prodi lain yang mungkin melakukannya dalam jangka waktu seminggu.

Saya rasa untuk masalah ujian ini tidak bisa dibandingkan dan sebenarnya ujian blok ini juga tidak membuat semua anak FK mendekam depan textbook kok. Banyak dari anak FK yang bahkan menganggap ujian blok ini sebagai try out, ya mengingat masih ada kesempatan memperbaiki nilai pada masa remidial nanti ((iya nilai kami banyak yang jelek, remedi lah)).

Nah, sebenarnya yang bikin kelihatan sibuk dan mengharuskan anak FK belajar adalah kegiatan belajarnya yang seperti Forum Group Discussion (FGD). Di tempat saya kuliah, keaktifan mahasiswa berbicara dalam FGD memiliki porsi 45% dari nilai IP. Jadi, jika dalam FGD tersebut kami hanya jadi batu, ya terancam lah sudah nilai IP kami. Berbicara dalam FGD perlu sedikit usaha dimana kami harus mengerti materinya lebih awal dan ini berarti kami harus belajar semalam sebelumnya.

Bicara masalah belajar, sejujurnya saya rasa ini juga tidak memotong banyak waktu. Waktu dua hingga tiga jam (jika tanpa main ponsel dan goleran ya) sudah cukup untuk membuat kami mendapat nilai yang tidak mengenaskan, setidaknya. Jika kami biasanya kuliah dari jam delapan, hal ini bisa dilakukan setelah subuh. Hal ini berarti malamnya kami bisa bebas melakukan hal-hal penting tidak penting (baca: rapat organisasi, nonton bioskop, dll) selayaknya mahasiswa lain.

Kuliah anak FK itu berbentuk kuliah umum, FGD, serta praktikum. Kuliah umum ini sering kali menjadi ajang kenakalan mahasiswa FK. Dari yang mulai tidur di ruangan, bicara sendiri, titip absen (kalau saya tap and go karena pakai finger print), hingga menggunakan waktunya untuk belajar hal lain yang lebih mendesak, seperti FGD. Dosen yang hanya sendiri di depan untuk menjelaskan pun seperti tak berdaya melawan kami yang berjumlah seratusan melakukan kenakalan berjemaah.

Janneta Filza Auladwasasyah 3
jenjanneta

Kuliah anak FK itu memang mengharuskan mahasiswanya belajar hampir setiap weekdays. Tapi percayalah, kami juga bisa diajak main setiap harinya, toh sebenarnya jika kami tidak belajar, tidak apa-apa. Iya, belajar itu sebuah pilihan bukan keharusan.

Ditulis dan dipublikasikan oleh Janneta Filza Auladwasasyah melalui @jenjanneta7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *