Penulis

Dua hari sebelumnya. Saya mendapat kabar bahwa penulis cerita pendek (dengan tulisan khasnya yang surealis) ada di kota saya. “Ini adalah kesempatan meminta ilmu,” pikir saya. Dia memang dari kota yang sama, tapi lebih dulu berproses di jalan sastra ketimbang saya yang masih seumur jagung. Bahkan lebih pendek lagi.

Di hari yang sama. Saya mencoba menghubunginya. Hendak bertanya tips-tips menulisĀ kreatif atau cara agar tulisan bisa sebagus miliknya. Serta proses, bagaimana awal dia berproses? Nyatanya nihil. Sedikit pun saya tidak mendapat jawaban. Bahkan kiat-kiatnya pun tidak.
Akhirnya saya mengajak meet up. Dan dia setuju. “Lebih baik bertemu, sambil ngopi dan membahas hal tidak jelas,” ujarnya dalam pesan via WhatsApp.

“Lah, saya butuh ilmu kok malah mau bahas hal tidak jelas, lalu apa faedahnya bertemu?” Saya mulai meracau tak jelas dalam batin.

Hari yang ditunggu tiba. Ah, ini dia hari yang ditunggu, sudah tak sabar melempar banyak pertanyaan pada penulis (yang boleh dikata) nasional. Beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa media ternama di Indonesia. Dan sudah memiliki beberapa buku. Pulang dari tempat kerja, saya langsung tancap gas, menuju sektor barat. Di sebuah kafe yang sudah menjadi basecamp teman-teman Literasi.

Dia datang. Hanya perkenalan yang terlontar. Jabat tangan dan duduk secara lesehan.

Tidak ada pertanyaan lagi setelah ditegur teman yang lebih lama dekat dengan si penulis. “Dia tidak suka ditanya-tanya begitu. Tanya saja buku-buku yang dia suka, nanti akan mengalir jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu itu. Terselip di antara ceritanya. Dia tipe orang yang tidak suka formal.” Saya malu, dan memilih diam.

Selang beberapa menit perbincangan dimulai. Tidak ada pertanyaan yang mengarah pada tulisan. Malah membahas cara mendapatkan uang dan meng-upload sesuatu di sosial media. Lebih-lebih membahas kenangan, patah hati, ditinggalkan, dan semua tertuju pada mantan.

Tanpa saya sadari, tiba-tiba semua mengalir, terhubung pada tulisan. Cerita-cerita pendeknya yang masuk media, diangkat jadi naskah film, sampai menjadi satu lalu menjadi beberapa (buku).

Banyak ilmu yang saya dapat. Dan pertanyaan-pertanyaan saya yang berderet, sudah rampung menemukan jawabannya. Buku bacaannya selama ini adalah karya dari penulis-penulis surealis memang. Puthut EA dan Seno Gumira Ajidarma. Kualitas tulisan kita bisa dilihat dari kualitas bacaan.

“Kita boleh meniru tulisan orang lain, yang tidak boleh itu plagiat (alias menjiplak)” katanya.

Hasil malam minggu saya bersamanya, dihabiskan membahas hal yang jelas-jelas tidak jelas. Tergantung si pendengar yang memaknai ceritanya. Berkatnya saya paham. Tak hanya penulis, pembaca juga butuh jiwa lain.
Ditulis dan dipublikasikan oleh Wilda Zakiyah di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Butch Dalisay (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *