Ivan Pamuji

Di dunia maya, khususnya di media sosial. Kita “bebas” memutuskan mau jadi apa tau mau menjadi siapa. Media ini tidak mengenal sekat dan juga mengaburkan identitas penggunanya. Karena seseorang yang bermain media sosial bisa menjadi dirinya sendiri, orang lain atau bahkan bukan siapa-siapa.

Twitter saat ini, diramaikan dengan akun-akun dengan username berakhiran “fess” yang ternyata diambil dari kata 𝘤𝘰𝘯𝘧𝘦𝘴𝘴 ‘pengakuan’. Munculnya akun-akun ini–yang ternyata adalah akun 𝘣𝘰𝘵, bertujuan menyediakan layanan pesan otomatis yang bisa dimanfaatkan oleh netizen agar bisa mengungkapkan sesuatu tanpa diketahui identitas penulis/pengirimnya.

Cuitan yang dikirim pada akun-akun ini isinya beragam. Entah itu hal-hal lucu, cerita pengalaman, kejadian-kejadian tertentu sampai pengakuan akan sesuatu yang dianggap tabu. Makanya tidak jarang terlihat ada kata 𝘯𝘥𝘦𝘳, yang berarti 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳.

Ada cuitan yang menarik perhatian saya. Si 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳 mengungkapkan rasa lega dan senang, karena berani mengungkapkan orientasi seksualnya yang menyukai sesama laki-laki pada kedua orang tuanya, setelah terpacu semangatnya berkat Troye–𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪 di konser We The Fest.

“Ibu dan Bapak cinta kamu sebagaimananya Mas, Ibu sama Bapak cuma pengen kamu bahagia. Ntar cowoknya dikenalin ke Ibu sama Bapak ya,” ungkap kedua orang tua si 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳, yang langsung membuatnya menangis.

Setelah membaca cerita itu. Entah kenapa, saya merasa ikut senang. Terlepas dari apa pun masalahnya dan setuju-tidaknya saya dengan si 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳, hati saya terasa hangat mendengar bagaimana akhirnya ia berani terbuka pada Ibu dan Bapaknya. Melihat bagaimana orang tuanya merespons pun, melengkapi cerita ini dengan baik.

Sial. Semua perasaan tadi langsung lenyap, karena saya penasaran–𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭 melihat bagaimana tanggapan orang-orang terhadap cerita tadi. Sebagaimana budaya masyarakat kita yang b̶i̶j̶a̶k̶ ̶d̶a̶n̶ ̶m̶e̶n̶g̶h̶a̶r̶g̶a̶i̶ ̶m̶e̶r̶e̶k̶a̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶b̶e̶r̶b̶e̶d̶a̶ ̶p̶i̶l̶i̶h̶a̶n reaktif.

Sangat bisa ditebak. Meskipun ada beberapa balasan positif (mendukung atau tidak setuju tapi dengan bahasa yang santun), tapi hampir semua balasan yang muncul adalah kata-kata s̶e̶j̶u̶k penuh makian, sinis, dan menghakimi si 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳. Ada yang menyuruhnya bertobat. Ada yang membanding-bandingkan si 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳 dengan anjing dan babi. Ada yang membawa-bawa agama dan–𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶. Ada yang menganggap orang tuanya gagal mendidik anaknya.

Saya sendiri tidak setuju dengan pilihan si 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳, terlebih agama saya dengan keras menolak itu. Tapi, bukan berarti saya jadi berhak beramai-ramai membuat simulasi hari penghakiman (via Twitter) pada si 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳, yang bahkan orang tuanya sendiri pun 𝘭𝘦𝘨𝘰𝘸𝘰.

Tentu saja reaksi di atas dilengkapi dengan salah satu balasan (yang selalu ada), bahwa bencana alam akan muncul akibat dari perbuatan seseorang yang dianggap hina tadi.

Saya mengangguk setuju. Kalau rokok dianggap sebagai penyebab segala penyakit. Maka LGBTQ adalah penyebab segala bencana alam. Sama sekali bukan diakibatkan pergeseran lempeng, polusi, global warming, perubahan iklim, pembabatan hutan apalagi kebiasaan buang sampah sembarangan.

Ditulis dan dipublikasikan oleh Ivan Pamuji di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Rafa Garcés (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *