Muhammad Rafi Fakhriananda 

Salah satu dari sekian banyak pendorong manusia untuk tetap bersemangat dalam melanjutkan hidup adalah harapan. Suatu pikiran mengenai cita-cita atau apa yang dikehendaki untuk terjadi pada kemudian hari. Dulu, ketika kecil kita terbiasa dengan simbol-simbol yang terbatas dalam mengekspresikan harapan atau cita-cita. Misal, ketika ditanya mengenai harapan di masa depan kita akan menjawab “menjadi polisi”, “menjadi guru”, dan sebagainya yang konotasinya terbatas pada pekerjaan.

Keterbatasan pandangan mengenai harapan itu pelan-pelan berubah dengan sendirinya. Terutama karena semakin beranjak dewasa, tiap individu akan menghadapi masalah dengan tingkat kompleksitas yang senantiasa berkembang. Perkembangan masalah itu akan memunculkan konsep baru mengenai harapan. Setidaknya, pada masa ini harapan tidak lagi hanya terbatas pada pekerjaan impian saja. Pemaknaan harapan menjadi lebih luas. Contohnya, menjadi juara kelas dan masuk universitas favorit.

Adanya harapan tersebut sangat berperan penting untuk menjadi motor penggerak kita untuk memaksimalkan usaha. Baik yang vertikal maupun yang horizontal. Baik yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Tindakan kita baik secara sadar maupun tak sadar akan difokuskan untuk membawa kita mencapai harapan yang telah kita tentukan sedari awal.

Doa-doa yang dipanjatkan, usaha keras tak kenal lelah, bahkan belajar dengan rajin pun adalah bentuk perwujudan nyata dari harapan-harapan yang ingin kita raih dalam setiap fase kehidupan. Secara umum, bentuk usaha yang dilakukan manusia untuk mencapai harapannya terbagi menjadi dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah usaha yang berdimensi duniawi dan dimensi yang kedua adalah usaha yang berdimensi ukhrawi.

Apa yang paling membedakan di antara kedua dimensi usaha tersebut? Dimensi duniawi berkutat pada perkakas-perkakas duniawi. Di  dalamnya mencakup usaha-usaha yang melibatkan sesuatu yang tampak atau empiris. Membantu sesama manusia, belajar dengan rajin, dan bersikap baik kepada tetangga merupakan sedikit contoh untuk merepresentasikan usaha berdimensi duniawi.

Usaha yang berdimensi ukhrawi merupakan usaha yang tidak kalah penting dibanding usaha berdimensi duniawi. Pada dimensi ini, usaha justru banyak diwujudkan dengan melaksanakan kegiatan tertentu yang basis utamanya adalah keimanan pada Tuhan. Doa merupakan contoh yang paling representatif. Doa tidak bisa dibuktikan secara empirik. Namun, berdoa dengan penuh keimanan akan menghantarkan kita pada ketenangan lahir dan bathin.

Setiap usaha yang dilakukan oleh manusia pasti didasarkan pada keinginan untuk berhasil dalam menggapai sesuatu yang dicita-citakan. Setelah manusia menyempurnakan usahanya, yakni dengan melakukan usaha dua dimensi yang telah disebutkan di awal, manusia pastilah mengharapkan tercapainya tujuan mereka. Namun, justru sebenarnya dalam fase penantian inilah manusia menjadi sangat rawan. Terutama rawan dalam “menuhankan” kacamata manusia.

Apakah yang dimaksud dengan kacamata manusia? Apakah kacamata manusia dapat dijadikan suatu nilai pegangan yang mutlak dan abadi dalam menilai segala sesuatu? Dan tentunya, apakah pantas kita “menuhankan” kacamata manusia?

Kacamata manusia adalah pendapat-pendapat, konsep-konsep, atau pandangan tertentu yang dimiliki setiap individu untuk merespons segala sesuatu. Dalam konteks ini, menurut kacamata manusia, kalau usahamu sudah sempurna, baik usaha yang dimensinya duniawi maupun ukhrawi maka kamu pasti akan berhasil. Kacamata manusia ini berangkat dari suatu premis-premis logika yang memang akan mutlak terjadi. Ya, mutlak terjadi apabila dinamika kehidupan betul-betul zero dari kekuasaan Tuhan.

Sayangnya, kehidupan manusia di dunia terutama bagi umat beriman, diyakini sangat tidak mungkin terlepas dari kekuasaan Tuhan. Bahkan, di dalam Al-Quran telah dinyatakan bahwa daun yang jatuh dari tangkainya pun tidak luput dari pengetahuan-Nya. Sehingga, amat mustahil menerapkan kacamata manusia yang berangkat dari premis logika semata untuk menafsirkan kehendak Tuhan yang acapkali melampaui logika manusia.

Dalam realitas, kacamata manusia sebagai makhluk terkadang berbenturan dengan kacamata Tuhan sebagai khalik. Inilah awal mula permasalahan menjadi kian rumit. Kacamata Tuhan tidak dibangun berdasarkan premis-premis logika manusia. Ia justru dibangun oleh premis-premis logika Tuhan.

Apa bunyi logika Tuhan yang paling terkenal? Tentu saja jawabannya adalah Kun Fayakun (Yasin : 82) “Jadilah! Maka terjadilah ia”

Apa-apa yang Allah kehendaki pastilah terjadi dan tak akan daya apa pun yang sanggup mencegah kehendak-Nya. Pun sebaliknya, jika Allah hendak mencegah sesuatu terjadi, tak satu pun kekuatan akan dapat mempersilakannya.

Dan tentu saja, premis Kun Fayakun ini tidak dapat diterima oleh logika manusia. Karena manusia tidak bisa melakukan itu semua. Hanya Tuhan lah yang dengan segala keagungan-Nya, memiliki kuasa tanpa batas dan kehendak mutlak tanpa satupun yang dapat mengganggu gugatnya.

Untuk menggambarkan bagaimana kacamata Tuhan dan manusia kerap kali berbenturan, hendaknya kita menyimak contoh sederhana berikut.

Seorang lulusan sarjana fresh graduate ingin melamar pekerjaan. Berbekal ijazah dan CV-nya ia berkeliling ke sana-kemari mencari lowongan pekerjaan. Tak lupa jua, ia memeriksa database lowongan pekerjaan via internet atau dunia maya. Itulah yang dimaksud dengan usaha yang berdimensi duniawi. Sementara itu, untuk melengkapi dimensi usaha yang pertama itu, ia juga memaksimalkan usaha yang berdimensi ukhrawi.

Ia memperbaiki bacaan dan gerakan salatnya, khusyuk dalam berdoa agar dipermudah mendapatkan pekerjaan, bahkan tak tanggung-tanggung ia juga merutinkan salat Tahajud. Sampai di sini, ia kemudian merasa bahwa usahanya telah sempurna. Menurut kacamata manusia, memang usahanya telah berlapis ganda. Dan, semestinya mengantarkan ia untuk segera mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.

Namun, di sinilah pentingnya manusia memahami bahwa walaupun dimensi usaha itu sudah mencakup yang duniawi dan ukhrawi, kacamata manusia tetaplah kacamata manusia. Layaknya manusia yang merupakan makhluk yang terbatas dan lemah, maka kacamata manusia tetaplah punya banyak kelemahan. Ia tidak bisa seratus persen menjamin kapan seseorang akan berhasil atau usaha manakah yang akan membuat seseorang mencapai keinginannya.

Kacamata manusia akan menjadi sangat kecewa ketika di depan ternyata hasil yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya. Padahal, manusia adalah makhluk yang serba terbatas. Dan Tuhan tidak bisa didikte oleh kehendak manusia.

Ketika kita mengalami kekecewaan akibat hasil yang datang justru bukan yang kita harapkan, kita harus senantiasa sadar sesuatu. Bahwa, Tuhan punya kacamatanya sendiri. Atas dasar alasan apa pun, Tuhan selalu merupakan Dzat yang lebih superior. Ketelitiannya pastilah melampaui apa pun di dunia ini dan hasil apa pun yang manusia terima adalah bagian yang tak terpisahkan dari kuasa-Nya untuk menghadirkan alur cerita terindah untuk setiap hamba yang disayangi-Nya.

Kita memang tidak dituntut untuk mengetahui apalagi menyesuaikan kacamata kita sebagai manusia dengan kacamata Tuhan. Karena sampai kapanpun tidak akan sangguplah manusia melakukan yang demikian itu.

Di balik kehendak Tuhan yang selama ini kita anggap pahit dan menyakitkan, senantiasalah ingat bahwa kita semua masihlah menggunakan kacamata manusia yang serba terbatas. Cukuplah ikhlas dan kesadaran penuh untuk menerima semuanya.

Sebagai manusia kita hanya dituntut untuk rela. Ikhlas tanpa batas, taat tanpa tapi, dan bersyukur sepanjang hayat. Karena bagaimanapun kita berusaha, kacamata manusia tak akan bisa menyamai kacamata Tuhan. Dan menuhankan kacamata manusia akan selalu berujung pada ketidakpuasan dan penyesalan. Wallahu A’lam Bisshowab…

Ditulis dan dipublikasikan oleh Muhammad Rafi Fakhriananda di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh VanessaC (EY) (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *