Diaz Radityo 2

Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Kalimat tersebut tampaknya berkebalikan dengan apa yang dialami tetangga saya. Anjingnya yang bernama Moli harus meregang nyawa di tangan orang yang tak bertanggung jawab.

Moli, begitulah biasanya ia dipanggil. Seekor anjing betina dengan bulu pendek berwarna coklat. Masih tertancap betul di ingatan saya tatkala ia menyambut kedatangan saya. Sorot matanya yang teduh dan sifatnya yang malu-malu menjadi ciri khas yang saya suka darinya. Moli memanglah anjing kampung, bukan dari ras mana pun. Ia hanya memiliki kesetiaan dan kepatuhan kepada pemiliknya. Setiap pagi, ia mengantarkan pemiliknya ke sawah. Memastikan bahwa pemiliknya baik-baik saja. Setelahnya, Moli akan kembali ke rumah dan menjaga sampai pemiliknya pulang. Ya sesekali dia juga bermain dengan anjing lain teman sepermainannya. Berlari ke sana kemari, memberikan jalan pula bagi kendaraan yang sedang melintas. Setelah puas, ia akan kembali menuntaskan tugasnya menjaga rumah. Kadang ketika saya pulang pun, ia juga juga menyambut dengan kibasan ekornya. Bahkan, pernah ingin membonceng sepeda motor saya. Kembali lagi ke sifatnya yang pemalu, dia malah kabur.

Ketika kemarin lusa saya mendapati kabar bahwa Moli mati akibat diracun, hati saya seperti dihajar palu milik Thor. Hancur. Remuk. Ingatan saya memutar seperti rol film, kejadian ini persis saya alami beberapa tahun lalu. Ketika dua anjing milik saudara saya dipaksa menelan soda api. Seketika itu juga kedua anjing tersebut tak bernyawa. Berlari-lari, lemas dan kemudian mati. Moli sebenarnya sudah berusaha untuk berjuang melawan racun yang menyerang dengan cepat di aliran darahnya. Sesaat setelah diberi air kelapa, ia sempat berlari dan menemui pemiliknya. Mengibaskan ekornya, meminta dielus tubuhnya. Tentu setiap makhluk hidup ingin menghadapi akhir cerita hidupnya dengan indah.
“Maafkan, aku sudah berusaha berjuang,” mungkin begitu kata Moli. Dan ia rebah melepas napas terakhirnya di pangkuan sang pemilik.

Moli mungkin juga memiliki salah. Sehingga ia “harus” mati dengan cara seperti itu. Ya, namanya juga anjing, tidak memiliki akal budi. Namun, Moli hanyalah seekor anjing betina dan ibu bagi keenam anaknya. Ia mencari makan dengan harapan membawa kabar gembira serta susu untuk diberikan kepada anak-anaknya. Moli tak kuasa melawan takdir dan hanya menjalaninya. Pasrah. Ikhlas. Moli memang sudah mati, persis seperti matinya ruang dialog yang semestinya bisa dimunculkan. Jika memang Moli ada salah, seharusnya bisa dibicarakan dengan baik dengan pemiliknya. Bukan malah menjadi Tuhan dan menentukan kematian makhluk hidup seenaknya sendiri. Bukankah semua sepakat bahwa Tuhanlah yang berhak atas kehidupan kita? (*)

Ditulis dan dipublikasikan oleh Diaz Radityo di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh ATOMIC Hot Links (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *