Anang Jefry Nurfalaq

Pagi tadi, dibuat melek oleh segelas teh panas.

Teh, adalah minuman yang sudah sangat akrab dengan kita, orang Indonesia. Baik waktu pagi, siang, atau malam tetap nikmat diseduh. Pakai es atau mau yang anget-anget, monggo sesuai selera. Teh cocok disandingkan dengan makanan apa pun. Pas lagi makan bakso, atau pecel lele, pesan minumnya juga es teh.

Karena orang Indonesia memang punya semboyan, apa pun makanannya minumnya teh botol sos*o. Hampir bisa dipastikan, teh selalu tersedia pas kita jajan di warung manapun. Jajan di burjo, pasti ada teh. Jajan sate madura, pesan teh sudah pasti dibuatkan. Di warung mbak Sri pun tetap sedia teh Pucuk.

Namun, nge-teh sering kali dianggap lebih dekat dengan selera orang tua. Beda dengan ngopi yang sangat melekat dengan tren anak muda kekinian. Setiap kumpul-kumpul anak muda, pasti sebutan kerennya ngopi. Kalau bilangnya mau nge-teh, seperti menurunkan kasta sebagai anak muda.

Lalu, akankah bisa, nge-teh menjadi hal yang tren seperti ngopi? Akankah bisa, teh menjadi pilihan yang bergengsi bagi anak muda? Bisakah?

Tapi buatku, masa bodoh dengan semua itu. Biar saja aku masih muda, aku tetap mau nge-teh denganmu kok, siapa tau kita bisa sama-sama. Sampai tua.

Nge-teh yuk!

Ditulis dan dipublikasikan oleh Anang Jefry Nurfalaq melalui @anangjefnf | 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *