Pak Ogah

Jika teman-teman lahir pada era tahun 90an atau generasi milenial yang suka nonton televisi di siang hari pasti mengenal tokoh yang satu ini. Pak Ogah, kepalanya gundul dengan perawakan kurus menjulang. Ia merupakan tokoh di dalam serial Unyil. Sebuah tayangan tentang boneka yang bisa bicara dan berjalan layaknya manusia.

Namun Pak Ogah yang ini beda. Tidak berkepala gundul dan kurus. Malah ada yang tambun. Pak Ogah yang akan kita rasan-rasan di sini adalah yang suka membantu mengurai kemacetan lalu lintas. Suka tidak suka invasi gaya hidup ibukota sudah sampe ke Jogja. Sebagai contoh, penjual sayur sekarang pakai gerobak atau kendaraan bermotor, bahasanya loe gue padahal asline Jawa banget dan yang kekinian adalah kemacetan yang tak terbantahkan. Mungkin ini efek pendapatan per kapita masyarakat Jogja yang naik. Mungkin lho ya. Sekali lagi mungkin.

Mari kita kembali ke Pak Ogah. Setiap perjalanan pulang dari kota ke desa, saya temui setidaknya ada 6 Pak Ogah yang berjaga di simpul kemacetan. Saya amati Pak Ogah ini juga sebuah pekerjaan yang ditulari oleh ibukota. Akhir-akhir ini kemunculan Pak Ogah menjadi semakin banyak. Bahkan hingga di desa saya dekat Merapi pun ada. Ya setidaknya bolehlah merasa desa saya sudah modern. Walaupun mau pasang wifi saja harus mengajak tetangga dua orang lagi. Haissembuhh…

Pak Ogah yang saya temui keren-keren. Ada yang pakai light stick. Dinyalakan terus digoyang-goyang. Mirip fans JKT 48. Padahal siang hari dan matahari menyengat. Bisa jadi Pak Ogah ini ikut kebijakan light on pada kendaraan bermotor. Mungkin juga dia memberikan panduan buat pesawat Boeing atau Airbus yang mau mendarat. Saya ndak tau pasti. Selanjutnya, Pak Ogah yang bersenjatakan bendera semafor. Kalo ketemu yang seperti ini saya semakin bingung. Pak Ogah gerakin benderanya ke berbagai arah. Saya coba pahami bahasanya, eee udah diklakson sama yang belakang. Ternyata gerakan tangannya tidak berbanding lurus dengan huruf pas saya pramuka dulu. Ealah…

Beda cerita dengan Pak Ogah yang mengulum peluit. Memahaminya membutuhkan terawangan. Pratt… Prittt… Pratt… Pritt. Seperti orang mau ngobrolin ke jenjang pernikahan. Yo yo atau ora ora. Cuma maju mundur tanpa kepastian. Kadang sebagai pengguna jalan saya ya bingung juga dengan bahasa kode yang diberikan Pak Ogah. Saya cari di Youtube ya belum ada yang bikin tutorial Pak Ogah. Tanya ke kakak pembina pramuka malah diajak jurit malam. Susah!

Tapi ya walaupun negeri ini katanya siap memasuki industri 4.0 yang isinya menitikberatkan kepada otomatisasi dan pertukaran data, kehadiran Pak Ogah tetaplah menjadi warna tersendiri. Ya maklum saja di jalan raya itu lebih banyak orang yang masih dalam level mengendarai kendaraan bermotor, bukan mengemudi. Pak Ogah menjadi sebuah solusi ketika para pengendara kendaraan bermotor “ogah” mikir buat keselamatan orang lain.(*)

Ditulis dan dipublikasikan oleh Diaz Radityo di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Chris Yarzab (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *