Ivan Pamuji 3

Masih ingat, ‘kan? Bagaimana drama Pilpres yang dibawa ke pengadilan bisa menarik atensi banyak masyarakat ke proses persidangan.

Selain pihak yang berselisih banyak yang merupakan kawan dekat, saksi-saksi yang terkadang lucu dan ilmu yang didapatkan dari argumen para pihak terkait, ikut mengedukasi banyak orang.

Sehingga, kesan persidangan yang tegang, kaku, dan membosankan pun tidak terasa di sini. Banyak juga yang mungkin kaget, ternyata persidangan bisa dibuat cair dan asyik. Makanya ketika sidang berakhir, semua pihak mengobrol, bercengkrama dan berfoto bersama. Seperti tidak ada hal yang dipermasalahkan.

Terlepas dari hasil sidang kemarin, pelajaran yang paling berharga ialah bagaimana semua pihak menerima keputusan para hakim. Ibarat masjid yang sakral sebagai tempat beribadah. Pengadilan juga tempat yang sakral untuk mengadili sebuah perkara. Maka, semua perangkat di dalamnya harus dihormati sebaik mungkin.

Beberapa hari kemarin ada hakim yang disabet oleh seorang pengacara menggunakan ikat pinggang hanya gara-gara tuntutannya ditolak. Seorang pengacara yang mengerti hukum, sudah sepatutnya menghormati proses pengadilan. Ironisnya, ia malah mengamuk–dengan dalih khilaf, melepas ikat pinggang dari celananya kemudian melayangkannya ke arah hakim–dua orang hakim mengalami luka.

Tindak kriminal dengan pengadilan sebagai tempat kejadian perkara. Hakim sebagai korban dan seorang pengacara sebagai pelaku. Mereka ini sedang menyelesaikan sebuah perkara malah dihadirkan perkara baru. Bagian enaknya ya cuman polisi, dari tempat, korban, pelaku, saksi dan barang bukti semua udah ada di satu tempat. Makanya enggak heran, karena besoknya si pelaku langsung jadi tersangka. Mantap, bukan?

Duh! Mau prihatin, tapi ya lucu. Mau ketawa, tapi ya kok rasanya enggak pas.

Wajar kalau pengacara mendapat bayaran besar kalau tuntutannya dikabulkan. Mungkin si pengacara yang menyabet hakim dengan ikat pinggang ini, sudah yakin akan memenangkan kasusnya dan sudah membayangkan uang yang nanti didapatnya akan dipakai untuk membayar cicilan atau mungkin biaya sekolah anak. Sebetulnya ia enggak sepenuhnya salah. Ini juga ulah rezim yang gagal meningkatkan perekonomian, sampai-sampai pengacara yang menggantungkan hidupnya di tangan hakim, harus bertindak emosional. Haduh haduh.

Banyak orang kaget dengan kejadian ini, kok bisa-bisanya pengadilan yang sakral dilecehkan seperti ini.

Tapi, bagi saya ini enggak terlalu mengagetkan. Toh, hal-hal semacam ini juga dilakukan masyarakat kita, hanya saja dalam bentuk yang berbeda-beda.

Jadi biasa aja lah, kalau ada pengacara yang memukul hakim. Orang yang salah jadi galak itu kan udah biasa. Banyak murid bandel, begitu ditegur malah gurunya dianiaya. Ada orang ditagih utang, malah jadi galak padahal dia yang pinjem. Ada pengendara motor yang naik trotoar, eh pejalan kaki yang dimarahin. Ini aja kalau contohnya mau dilanjutin, enggak selesai-selesai ini tulisan, saking banyaknya.

Makanya, pengacara yang memukul hakim itu sebetulnya cerminan masyarakat kita. Jadi ya, enggak usah kagetan gitu lah jadi orang.

Ditulis dan dipublikasikan oleh Ivan Pamuji di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Alvaro Sasaki (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *