Pujian

Mungkin sebagian orang suka dipuji, tapi ada beberapa yang malah merasa risih menerima pujian. Memang logikanya pujian adalah sebuah apresiasi. Mengapresiasi juga ada seninya.

Pernah suatu ketika, saya berkumpul bersama teman-teman komunitas. Sebut saja Fika, setelah membaca tulisan-tulisan dari salah satu teman kita, Zafran. Dia melontarkan kalimat-kalimat pujian. Mengekspresikan rasa kagumnya pada tulisan tersebut. Zafran tersenyum simpul, mengucapkan terima kasih, lantas pergi.

Aku yang melihat kejadian itu bertanya-tanya dalam hati “Zafran, kenapa tiba-tiba terlihat tidak mood, yah? Apa sakit?”

Terlihat Zafran sedang merokok di luar bersama Dino dan secangkir kopi yang aku yakini sudah tak panas lagi. Fika tidak menyadari perubahan ekspresi wajah orang yang dipujinya tadi.

Aku keluar, menghampiri dua manusia yang tengah asik mengobrol.

“Kenapa, Ran?” Tanyaku.

“Apanya kenapa, Wil?” Dia malah balik bertanya.

“Eh, kamu tadi tiba-tiba berwajah masam lalu keluar. Marah?”

“Nggak, cuma aku gak suka pujian aja,” jawabnya.

Otakku mulai dipaksa berpikir. Memang kenapa dengan pujian? Bukankah itu bagus? Artinya apa yang dipuji itu adakah sesuatu yang hebat, keren, baik, bagus, dan luar biasa. Kenapa harus tidak suka? Dipuji kan berarti disukai. Sederetan pertanyaan berjejer butuh jawaban.

“Lah, kok bisa? Bukankah memuji artinya menyukai?” Tanyaku pada Zafran.

“Wil, mungkin bagi mereka yang menyukai pujian adalah mereka yang merasa cukup. Dipuji malah membuat kita berada di zona nyaman. Itu yang bahaya. Pujian adalah pembunuhan paling mesra. Yang dipuji akan merasa puas dengan hasil yang didapat. Lalu, dia tetap pada fase yang begitu-begitu saja. Kalau seperti itu trus, Kapan mau maju? Simpelnya begitu, Wil.”

Zafran membenarkan posisi duduknya. “Kamu menampilkan deklamasi di Acara Malam Apresiasi Seni. Terus banyak yang tepuk tangan dan memuji Penampilanmu bagus. Maka besok-besoknya kamu akan menampilkan sesuatu yg sama.┬áBoleh jadi berbeda tapi pembawaannya akan begitu-begitu saja. Tidak ada dobrakan baru yang membangunkan ide-ide baru. Tapi semua tergantung kita, kembali pada diri masing-masing. Ada yang kuat dengan pujian, dia tetap berproses maju meski dipuji berulang kali. Biasanya dia sudah kebal dan pujian tidak berpengaruh apapun padanya. Kalau aku kan masih baru, jadi aku tidak mau terperangkap dalam zona nyaman dulu. Prosesku masih panjang. Malah aku lebih suka dikritik.”

Aku makin heran. Zafran melanjutkan bicaranya “Yah, walaupun tidak ada kritikan yang membangun (kata Cak Rusdi Mathari) setidaknya kritikan lebih jujur daripada kekaguman biasa yang diselimuti dengan nama pujian. Itu membunuh perlahan.” Aku perpikir sejenak. Karena memang otakku sedikit lemot kalau soal berpikir. Lalu tiba-tiba ber-ooh ringan. Tanda paham.

Ditulis dan dipublikasikan oleh Wilda Zakiyah di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Wilda Zakiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *