Diaz Radityo

Resepsi adalah bentuk legalitas pernikahan setelah dilakukan akad. Budaya ini memang tak bisa dipisahkan dari kultur bangsa ini. Mulai dari penyebutan piring terbang hingga bahasa lokal lainnya. Resepsi tetaplah sebuah ritual yang “harus” dilakoni.

Hari ini kebetulan saya mendapatkan amanah resepsi alias jagong manten ke sebuah mall yang berada di utara Yogyakarta. Kebetulan juga tak jauh dari rumah. Sekira 10 menit saja, itu pun mblusuk lewat jalan desa. Undangan menyatakan bahwa saya harus hadir pukul 12.30. Namun tampaknya pukul 12.15 saya sudah sampai di ballroom tempat acara tersebut dihelat. Memasuki ballroom, saya langsung dihadapkan dengan lampu yang terang dan mirip kayak konser musik. Otak dagang saya terus muncul. Habis berapa ini bisa kayak gini? Saya pun bergegas mengalihkan pikiran ke hal lain, karena saya juga menyadari rekening saya yang sudah menipis terkikis oleh hari-hari di kalender.

Setelah bersalaman dengan pengantin yang sedang berbahagia, saya bergegas menuju arena pertempuran. Maklum saja, di bawah panggung pengantin, para tamu mirip pas diskon Lebaran kemarin. Saling berdesakan di setiap menu yang disajikan. Berhubung saya juga sudah dilanda kelaparan dan keharusan makan, maka saya pun ikut bertempur di sana.

Walaupun saya tergolong kasta Sudra namun pernahlah beberapa kali datang ke resepsi yang mewah dan memperbaiki gizi. Kali ini saya dihadapkan pada pilihan berat. Kepala masih kliyengan tapi kambing guling sudah merajuk minta dikunyah. Di sisi lain ada bebek Peking. Ada pula kebab. Gusti Allah cobaan apa ini?

Sembari makan, saya seneng melihat adanya resepsi. Banyak yang saling salaman, cipika cipiki. Menjalin silaturahmi dan relasi. Ada pula yang malah selfie, sampai-sampai lehernya kayak jerapah. Biar pas di tengah kamera. Di sebelah saya juga ada ikatan suami ngeyel dengan istri.

“Tambahi mbak kambingnya, mumpung istri saya gak liat!” perintahnya. Melihat anak-anak kecil yang rebutan es krim juga bikin hati saya makin bungah. Belum lagi mamah-mamah muda. Sungguh indah hari Minggu ini.

Sebenarnya sih saya seneng-seneng saja datang ke resepsi. Lha wong dapat makan. Lebih dari itu semua resepsi bisa menjadi ajang silaturahmi yang luar biasa hebat setelah pascapemilu kemarin. Saya menyadari dan yakin bahwa selain dengan rasan-rasan, kita dapat bersatu melalui makanan. Ya, semoga saja resepsi tetaplah resepsi bukan adu gengsi antarfamili. Semoga yess… (*)

Ditulis dan dipublikasikan oleh Diaz Radityo di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Wahid Hasyim (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *