Kegilaan dan keliaran seorang seniman dan sastrawan, tidak memandang usia.

Kita berbicara sastra dan seni saja dulu, sebelum beralih pada organisasi-organisasi yang pernah kuhirup bagai puntung rokok yang nyaris mati.

Membahas seni adalah membahas kegilaan, berbicara sastra artinya berbicara keliaran. Mengapa demikian? Sebab berseni akan membawa kita pada hakikat cinta yang paling tinggi, manusia yang mencinta keterlaluan akan menggilai atau tergila-gila, sama saja dengan gila.

Dan hal itu tertuju pada kesenian.

Lantas bagaimana dengan sastra? Sastra mengajarkan kita liar dan nakal dalam berpikir, agar tulisan-tulisan tak hanya stagnan di tempat, yang isinya begitu-begitu saja. Lalu kapan punya wawasan di luar batas nalar? Bersastra jangan tanggung-tanggung.

Pernah suatu hari saya ditentang mati-matian oleh keluarga untuk berkecimpung di dunia seni, dengan alasan tidak ingin anak wanitanya gila seperti anak jalanan. Alhasil terjadi sedikit percekcokan di situ, saya yang keras kepala dengan segala argumen dengan orang tua beserta kakak saya yang konsisten dalam larangan.

“Nak-kanak binik aruah adhen-dhen makle raddhin benni engak reng ghile” (anak perempuan itu berdandan biar cantik bukan seperti orang gila). Kata ayah di sela-sela perdebatan. Ah, pada akhirnya saya tetap menjadi segila ini, karena memang saya lahir dan besar di dunia seni dan sastra. Semua hal memang beresiko, ditentang juga salah satunya. Tergantung kita pada pola pikir yang bagaimana itu.

Pada intinya kembali pada fase bersiap menjadi orang yang gila dan nakal atau tidak sama sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *