Diaz Radityo 4

Sebelum berangkat memburuh tadi pagi, gawai saya bergetar. Sebuah pesan masuk ke WA. Intinya mengingatkan agar jangan lupa sarapan. Konon, menurut iklan di televisi, sarapan mampu meningkatkan prestasi. Baiklah. Saya pun akan sarapan demi meningkatkan prestasi dan kinerja di kantor. Amin. Sembari saya melaju bersama sepeda motor yang tanpa harus mikir pindah transmisi. Saya berpikir lumayan keras. Mau makan apa? Setibanya di daerah ring road utara, sebuah ide mulai hinggap di benak saya. Masih samar-samar. Saya lalu coba terawang, ada huruf S,O, kemudian sedikit kabur lagi. Ada huruf T, yang terakhir huruf O. Dibaca BAKSO! Eh, SOTO maksud saya.

Sudah lama juga saya tak sarapan soto. Kemudian saya mulai mikir lagi, soto di mana ya? Yang tidak rame dan cepat penyajiannya. Akhirnya radar ingatan dan penciuman teringat penjual soto di dekat kos milik teman saya. Gasss menuju ke sana. Sesampainya di sana, penjual soto yang ditemani istrinya tampak khusyuk melayani pembeli.

“Soto satu, Pak, dimakan di sini, “pesan saya.
“Baik, Mas. Silakan ditunggu,” balas si bapak tersebut.

Terus saya mikir lagi, ini saya sedang pesan soto apa ojek online ya? Kok jawabannya template. Apakah lapar berkorelasi dengan halusinasi? Entahlah….

Bapak tersebut sangat cekatan dalam melayani pesanan. Sampai-sampai saya yang di belakangnya dibiarkan menelan ludah sebanyak mungkin dalam menghalau lapar. Ya sudah tak mengapa. Saya seruput lagi jeruk hangat yang sudah tersaji. Mungkin jika perut saya kembung nafsu makan juga bakal hilang. Waktu yang dinanti akhirnya tiba. Soto pesanan saya datang. Tentu di dalam mangkok bukan di dalam gelas. Apalagi di atas daun pisang.

Sebelum makan, sebagai orang yang taat beribadah, saya berdoa dahulu. Mengucap syukur bahwa setelah memasang muka cemberut dan muka merah, pesanan saya diantarkan. Ditemani tempe mendoan dan beberapa tusuk sate usus serta rempelo ati, saya mulai melahap soto tersebut. Pelan-pelan saya mulai makan soto tersebut. Mendoan yang sudah basah kuyup oleh kuah soto, mulai saya potong-potong. Tak lupa, sambal dan kecap saya tambahkan. Anggap saja sedang makan steak-lah. Nikmat rasanya. Apalagi ditemani beberapa dedek mahasiswa yang masih belia gitu aja saya udah bahagia kok. Huum…

Setelah saya lihat lebih dalam, menembus isi soto. Ternyata soto itu mirip Indonesia. Ada kubis, ada tauge, ada nasi, ada soun, ada potongan ayam, ada garam dan yang paling pamungkas ada micin. Di dalam mangkok tersebut berbagai macam komposisi. Tapi semuanya menyatu. Dipersatukan oleh kaldu soto. Tak ada yang tampil dominan. Semuanya melebur dalam rasa gurih. Soto ini sebenarnya perwujudan dari Indonesia yang penuh dengan berbagai macam perbedaan. Namun akan menjadi kekuatan bila disatukan. Jika ada orang bilang, “Tak siram wajahmu pakai soto.”, sejatinya dia adalah orang yang ingin merusak persatuan di nusantara ini. Semoga para penjual soto diberikan kesehatan dan rezeki. Karena di dalam soto yang hangat terdapat jiwa yang sehat.(*)

Ditulis dan dipublikasikan oleh Diaz Radityo di akun Facebook untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. | Foto oleh Bruno Kvot (flickr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *