Janneta Filza

Selepas memutar otak menghadapi tentamen anatomi hari ini, tepat saat azan ashar berkumandang, aku bersama delapan orang temanku lain beriringan menelusuri Jalan Denggolan menuju Desa Mororejo, Tempel. Terhitung ada lima motor yang kami gunakan. Kami saling berboncengan. Aku pun tak melewatkan kesempatan mengisi slot di jok belakang motor, menikmati jalanan, pikirku.

Dua puluh kilometer kepergian kami, dan selama itu pula netraku hanya terpaku pada GMaps. Iya, inginku tak terpenuhi. Menjadi pemandu jalan membuatku melewatkan suasana Sleman. Sungguh sayang memang.

Tugas organisasi membawa kami touring sejenak melarikan diri dari hectic-nya responsi serta berbagai kepanitiaan menyambut mahasiswa baru. Salah, bukan melarikan diri, dipaksa pergi mungkin lebih tepat. Dua minggu lalu amanah ini sebenarnya telah diberikan. Jika saja jadwal deadline hari Kamis tidak menghantui kami, yakinlah tugas ini pasti akan tergeletak begitu saja.

Sesampainya kami di Desa Mororejo, hal yang pertama kami lakukan adalah bertanya rumah kepala desa. Selayaknya desa di Jogja, bahasa Jawa, khususnya krama mengantar kami sampai tempat tujuan. Dengan mengandalkan kata “Griyane pundi nggih?” dan “Matur nuwun” sampailah kami ke rumah Bapak Roni.

Sesungguhnya kegiatan bertanya ini tidak semudah yang kalian baca. Mengartikan petunjuk seperti “mangke lurus, ada perempatan, terus ke selatan,” sungguhlah hanya menyisakan anggukan kepala tanpa terproses di otak. Sembilan orang dari kami hanya ada tiga orang yang bisa berbahasa Jawa atau setidaknya mengerti jika diajak bicara. Namun, tak ada satu pun dari kami yang paham arah mata angin sedangkan orang Jogja selalu memberi arah jalan menggunakan mata angin.

Alhasil, seakan mengerti raut wajah kebingungan kami, seorang petani di tengah sawah yang kami tanyai mengubah penjelasannya menjadi belok ke kiri dan kanan. Tak cukup sekali, kegiatan bertanya rumah Bapak Roni ini hampir kami lakukan di setiap persimpangan jalan. Sebenarnya semua jawabannya berakhir sama “Niku wonten Rebobong Kidul, seng omah e jembar,” ya tapi bagaimana ya, jika memang dasarnya kami tidak tau, disuruh membayangkan pun otak kami tidak kuat.

Entah kenapa setelah melalui perjalanan hari ini, aku pikir orang-orang pendatang akan sangat diuntungkan ketika mereka bisa berbahasa Jawa serta mengetahui arah mata angin di Jogja. Jika saja dalam rombonganku tidak ada yang bisa berbahasa Jawa dan petani itu tidak sadar kami bingung, mungkin aku dan teman-temanku bisa terhenti di tengah sawah karena hanya mengandalkan GMaps.

Ditulis dan dipublikasikan oleh Janneta Filza Auladwasasyah melalui @jenjanneta | 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *