Janneta Filza Auladwasasyah

((Tulisan ini saya buat hari Sabtu kemarin saat ada kelas menulis dari Mojok, hanya saya edit sedikit yha biar keliatan kalo saya hari ini nulis juga wkwk. Sebenarnya saya posting tulisan ini juga ingin mengutarakan keluh kesah saya kepada persma kampus saya sendiri, yang mana tiap anggotanya gatau kenapa bebal banget datang rapat nelatnya nauzubillah bisa sampe dua jam.))

Menghadiri rapat organisasi pada tiap Jumat malam merupakan salah satu kegiatan rutin yang saya lakukan setahun terakhir. Layaknya organisasi kampus lain, saya pikir organisasi ini juga memiliki toleransi tinggi kepada anggotanya yang terlambat. Rasa kesal serta dongkol di hati selalu menancap kuat tatkala melihat rapat yang tak kunjung dimulai.

Dari tiga puluhan anggota yang ada, mungkin bisa dihitung jari yang datang tepat waktu. Satu jam kemudian, biasanya rapat baru dimulai dengan jumlah orang seadanya. Anggota yang lain akan bermunculan serta ruang sekretariat menjadi ramai tatkala ada notifikasi rapat telah dimulai dari Line.

Usaha demi usaha untuk membuat rapat berjalan tepat waktu sebenarnya telah dilakukan segelintir pengurus. Sayangnya, mungkin budaya telat rapat ini sudah terlalu mendarah daging pada diri tiap anggota. Di awal pertemuan dan perkenalan organisasi, semua anggota baru datang sesuai jadwal yang dijanjikan, namun seiring berjalannya waktu, kebiasaan senior yang selalu datang terlambat tentulah akan menarik perhatian. Alasan yang biasa terlontar ialah adanya kegiatan lain di luar organisasi terlebih dahulu atau ketiduran.

Bagi seseorang yang disiplin, hal ini tentu membuat kepercayaan dirinya kepada orang lain untuk datang tepat waktu akan menurun. Dirinya akan merasa kecewa lalu berperilaku seperti yang lain. Ia akan menganggap bahwa jika orang lain saja boleh terlambat, kenapa dirinya tidak boleh melakukannya jua.

Budaya terlambat ini saya jumpai hampir pada setiap organisasi. Kegiatan yang terasa tidak terlalu ketat serta formal seperti kuliah, membuat disiplin akan waktu mengendor. Rasa kewajiban datang waktu akan melonggar melihat tidak ada hukuman yang berdampak signifikan. Padahal, keterlambatan ini tentu akan berdampak besar pada efektivitas kerja organisasi sendiri.

Organisasi akan selalu melibatkan banyak kepala di dalamnya. Tiap kepala memiliki tanggung jawab dan peran besar tersendiri. Jika saja setiap individu mulai menyadari pentingnya disiplin, utamanya saat rapat dilaksanakan, niscaya budaya terlambat rapat pun akan menghilang perlahan serta organisasi pun lebih produktif.

Ditulis dan dipublikasikan oleh Janneta Filza Auladwasasyah di akun @jenjanneta untuk 7 hari menulis Kelas Menulis Mojok #1. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *